Perjalanan Sore Menuju Arutmin; Zikir Ombak, Doa Mesin, dan Cahaya yang Tak Pernah Padam
Oleh: Nurul Jannah
Ketika Langit Berubah Menjadi Puisi
Pukul empat sore di Jetty Airut, Batulicin. Langit mulai melembut, menurunkan warna keemasan yang meluruh di atas permukaan air. Sungai berkilau bagai lembaran kaca berhiaskan cahaya senja.
Angin membawa aroma asin, suara mesin kapal di kejauhan terdengar seperti lantunan doa yang sedang menuju pulang.
Di tepi dermaga, speedboat Arutmin telah siap berangkat, kapal putih bermesin ganda, gagah namun bersahaja.
Kapasitasnya hanya dua puluh empat orang, tapi di dalamnya tersimpan ribuan cerita: tentang dedikasi, amanah, dan cinta pada profesi.
Kami, tim Audit Lingkungan Hidup IPB, Pusat Studi Reklamasi Tambang yang diketuai Dr. Irdika Mansur, beruntung sore itu diizinkan menumpang dalam perjalanan menuju site Arutmin.
Sebuah perjalanan yang bukan hanya menyeberangi air, tapi menyusuri jejak manusia yang hidup dengan hati dan tanggung jawab.
“Siap berlayar, Bapak Ibu?” suara Pak Hendra, sang nakhoda, memecah hening.
“Siap, Pak. Langitnya indah sekali.”
Ia tersenyum, matanya menatap jauh ke ufuk barat.
“Senja di Batulicin memang selalu punya cara untuk bicara. Tapi tidak semua orang bisa mendengarnya.”
Mengapa Ada Speedboat Khusus Arutmin?
Dahulu, ketika PT Arutmin Indonesia mulai beroperasi di Batulicin pada awal tahun 1990-an, akses menuju lokasi tambang tidaklah mudah. Jalan darat masih berupa jalur tanah yang berliku dan memakan waktu berjam-jam.
Perusahaan kemudian mencari jalan lain; jalur air. Dari situlah Jetty Airut dibangun, menjadi titik keberangkatan menuju pelabuhan dan site tambang di pesisir.
Untuk menjamin keselamatan dan kecepatan, diciptakanlah speedboat khusus Arutmin, hanya bagi karyawan dan tamu resmi kantor.
Speedboat ini bukan kapal biasa; ia adalah simbol kehormatan dan tanggung jawab.
Hanya mereka yang terdaftar dan bertugas resmi yang boleh menaikinya, karena di balik air yang tenang, ada medan kerja yang keras, berisiko, dan menuntut ketelitian tinggi.
Speedboat ini begitu berarti, ia adalah urat nadi antara daratan dan laut, antara kerja dan doa. Ia membawa harapan manusia, bukan semata tubuh mereka. Setiap getar mesinnya adalah denyut dedikasi yang berpacu dengan waktu.
Di balik kemudi, ada Pak Hendra, lelaki asal Kotabaru yang telah lebih dari sepuluh tahun menantang arus dengan senyum tenang.
Menemani beliau, Pak Haji Aspiadi, sosok lembut dengan dzikir yang tak pernah putus di antara riuh angin, dan Pak Hari, penjaga disiplin yang memastikan semua siap berangkat tanpa cela.
Mereka bertiga bukan awak kapal semata; mereka adalah penjaga keselamatan dan keikhlasan di atas air yang tak pernah sama setiap harinya.
Semua bermula di Jetty Airut, dermaga yang seolah memeluk air dan langit sekaligus. Di sini, senja menjadi saksi pertemuan antara manusia dan takdirnya.
Setiap kali kapal meninggalkan dermaga, seolah ada sepotong doa yang ikut terlepas; berlayar bersama ombak menuju pelabuhan Arutmin.
Perjalanan menuju Arutmin memakan waktu sekitar dua jam, cukup bagi matahari untuk menurunkan dirinya perlahan di cakrawala, dan bagi manusia di atas kapal untuk merenungi hidup di antara dua dunia; air dan daratan.
Speedboat ini diciptakan bukan hanya untuk cepat, tapi untuk menjaga ritme tanggung jawab manusia terhadap bumi yang digarapnya.
Dengan mesin kembar yang meraung gagah namun lembut, dengan awak kapal yang hafal setiap arus dan angin. Dengan hati yang tak hanya bekerja, tapi beribadah.
Mereka berlayar untuk memastikan bahwa setiap perjalanan menjadi bentuk sujud yang berbeda.
Di Atas Air, Waktu Serasa Berhenti
Speedboat melaju. Air terbelah, menari di kedua sisi lambung. Cahaya sore menembus percikan air, menciptakan pelangi kecil di udara. Di kursi penumpang, kami terdiam, bukan karena takut, tapi karena takjub.
“Air itu unik, Bu,” suara Pak Hendra memecah senyap.
“Unik bagaimana, Pak?”
“Ia bisa marah, tapi juga bisa menenangkan. Tergantung hati yang membacanya.”
Angin menepuk lembut wajah kami. Suara mesin berpadu dengan zikir halus kami. Sementara Pak Haji Aspiadi dan Pak Hari sesekali berdiri, menatap horizon seolah menjaga garis takdir agar tetap seimbang.
Saat Matahari Turun, Hati Terang
Menjelang pukul enam, langit berubah menjadi lautan warna: jingga, merah saga, ungu lembut. Di kejauhan, pelabuhan Arutmin tampak kecil, siluet hitam di antara cahaya yang menguap perlahan.
Speedboat memperlambat laju. Semua berubah menjadi hening yang khidmat. Bahkan air pun seolah berhenti bernafas, memberi ruang bagi manusia untuk bersyukur.
“Alhamdulillah, sampai, Bu,” kata Pak Hendra perlahan. Aku berkesempatan duduk di samping pak Hendra sore itu. Maka, aku berkesempatan untuk ngobrol banyak dengannya.
“Terima kasih, Pak. Rasanya baru sebentar,” jawabku dengan suara yang ikut melembut.
Ia menatap matahari yang hampir tenggelam, lalu berkata pelan: “Begitulah perjalanan hidup. Kadang terasa cepat, tapi kalau dijalani dengan hati, setiap detiknya bermakna.”
Aku menatap wajahnya yang diterpa senja. Wajah yang penuh kelelahan, tapi juga ketenangan. Wajah manusia yang tahu betul bahwa bekerja bukan hanya mencari nafkah semata, tapi menjaga agar bumi tetap berdenyut.
Di Antara Air dan Doa
Perjalanan sore dari Jetty Airut menuju Arutmin bukan hanya tentang perjalanan fisik. Ia adalah metafora kehidupan.
Bahwa setiap gelombang adalah ujian, setiap percikan air adalah nasihat, dan setiap cahaya senja adalah pengingat bahwa keindahan selalu lahir dari kesabaran.
Speedboat Arutmin mengajarkanku arti zikir dalam bekerja; bahwa setiap raungan mesin pun bisa menjadi doa, bahwa air yang beriak pun bisa menjadi guru yang bijak, dan bahwa senja selalu menuntun manusia untuk pulang, bukan ke rumah, tapi ke jiwanya sendiri.❤🔥🌹🎀
Bumi Allah, 19 Oktober 2025
